Minggu, 20 Maret 2016

Saya Mau Berubah

Saya Mau Berubah Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor 1

Dikisahkan, di sebuah seminar motivasi, setelah mendengar banyak kiat-kiat dan pelajaran di sana, saatnya para peserta pulang dengan membawa kesan dan semangat yang membara untuk dipraktekkan di kehidupan mereka lebih lanjut. Di antara mereka, beberapa orang tampak mengalami kemajuan yang berarti. Mereka yang merasakan manfaat dan sangat terbantu setelah mengikuti seminar tersebut, memberitahu teman dan saudara-saudaranya bahwa seminar yang diikutinya sangat bagus dan luar biasa. Dia mulai melakukan anjuran yang diajarkan dan mengalami perubahan cara pandang dan kebiasaannya. Dikesehariaannya, dia berusaha terus menyemangati diri sendiri, aktif mengikuti kegiatan yang positif, mengarahkan seluruh perhatiannya pada usaha yang dijalankan, dan hasilnya….perubahan yang luar biasa dikehidupannya! Mengalami kemajuan dan bersyukur!

Ada kelompok yang lain. Setelah mengikuti seminar, mereka juga tampak bersemangat, bersiap-siap untuk mengadakan perubahan, membuat rencana sedetil mungkin. Sayangnya, setelah beberapa saat, rencana yang dibuat tetaplah rencana. Blok mental karena kebiasaan yang dijalani selama ini yakni malas, menunda, tidak bisa menerima penolakan, cepat putus asa saat mengalami benturan, serta cara pandangnya yang negatif terhadap sekelilingnya menyebabkan dia kembali ke pola lama dan mulai menyalahkan keadaan d
... baca selengkapnya di Saya Mau Berubah Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor Satu

Terimakasih Motivatorku

Terimakasih Motivatorku Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor 1

“Besok aku berangkat” ucapku seraya menundukkan kepala, “Kapan kamu kembali?” ucap Irma sahabatku sambil menepuk bahuku yang lesu, “Mungkin 6 tahun lagi” jawabku pelan “Lama ya, bukannya saat itu kita udah lulus SMA?” ucapnya dengan senyum maksa, kubalas ia dengan anggukan.

Malam ini adalah malam terakhir buatku dan sahabatku untuk tidur sekamar, ini adalah ritual kita setiap satu minggu sekali, Kadang di rumahku, kadang juga di rumahnya. Tapi malam ini aku sengaja tidur di rumahnya. Hampir semalam penuh aku nggak bisa tidur, kutatap jam dinding yang menghitung detik demi detik, kuambil nafas panjag setiap satu menit berlalu, kupeluk tubuh temanku yang tertidur pulas di sampingku. Hingga pukul 03.00 aku mulai tertidur.

Pukul 06.00 orangtuaku menjemputku, tampaknya mereka sudah siap berangkat, Sebelum aku masuk ke mobil kuberi sahabatku sebuah kalung yang couple denganku, “Kuharap, kamu bisa menjaga kalung ini… setidaknya sampai aku kembali” ucapku menahan tetesan air mata “Aku akan menjaganya sepert
... baca selengkapnya di Terimakasih Motivatorku Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor Satu

Senin, 14 Maret 2016

Wiro Sableng #85 : Wasiat Sang Ratu

Wiro Sableng #85 : Wasiat Sang Ratu Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor 1WIRO SABLENG

Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212

Karya: Bastian Tito

Episode : WASIAT IBLIS

SATU

PENDEKAR 212 Wiro Sableng garuk garuk kepala. Lalu pada Dewa Ketawa yang duduk di hadapannya dia berkata. "Aku tetap tidak bisa percaya kalau saat ini kita berada di awang awang. Kau lihat sendiri Sobatku Gendut. Bangunan, taman, pedataran, lalu di sebelah sana malah ada bukit! Mana mungkin semua ini menggantung di udara. Mana mungkin ada dunia di atas dunia?!"
Kakek gendut berbobot 200 kati itu elus elus dadanya yang gemberot. Lalu penyakitnya kambuh. Dia mulai tertawa. Mula mula perlahan. Tambah lama makin keras hingga Wiro terpaksa tekap kedua telinganya.

"Anak tolol! Aku sudah bilang mengapa meributi segala hal yang tidak bisa sampai dalam akal kita manusia biasa? Tempat ini, termasuk para penghuninya, jadi termasuk Ratu Duyung bukanlah makhluk biasa. Mereka mampu hidup di dua alam.

Darat dan air...."

"Berarti mereka sebangsa kodok?" ujar Wiro sambil menyengir. Membuat tawa si gendut semakin keras. "Ada satu hal lagi yang aku tidak mengerti. Kulihat Sang Ratu maupun gadis gadis yang ada di sini tidak ada bedanya dengan manusia biasa. Mengapa Sang Ratu disebut Ratu Duyung? Bukankah du
... baca selengkapnya di Wiro Sableng #85 : Wasiat Sang Ratu Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor Satu

Rabu, 09 Maret 2016

Kekuatan Sebuah Pujian

Kekuatan Sebuah Pujian Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor 1

Ada dua gadis bekerja pada sebuah perusahaan yang sama. Nona Wang dan Chang. Keduanya memiliki karakter yang berbeda dan karenanya tak dapat sharing atau bertukar pikiran bersama. Walaupun keduanya tidak saling membenci, namun mereka bukanlah sahabat karib dan tak saling mengagumi cara kerja serta sifat masing-masing.

Suatu hari, nona Chang meminta teman kerja yang lain, Pak Chou, untuk menegur nona Wang agar ia memperbaiki serta mengontrol dorongan emosinya. Sebab kalau tidak demikian, tak akan ada orang yang mau berteman dengannya. Demikian alasan nona Chang. Pak Chou menyetujui permintaan nona Chang itu.

Setelah beberapa hari, nona Chang berpapasan dengan nona Wang. Nona Wang dengan penuh ramah dan sopan menegur nona Chang. Sejak itu nona Chang melihat adanya perubahan besar dalam diri nona Wang, yang kelihatannya seakan-akan telah berubah menjadi seorang peribadi baru, seorang peribadi yang menyenangkan dan disukai banyak orang.

Nona Chang lalu bertemu Pak Chou untuk mengungkapkan rasa terima kasihnya, serta menanyakan resep yang dipakai Pak Chou menasihati
... baca selengkapnya di Kekuatan Sebuah Pujian Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor Satu

Minggu, 06 Maret 2016

Wiro Sableng #159 : Bayi Satu Suro

Wiro Sableng #159 : Bayi Satu Suro Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor 1WIRO SABLENG

Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212

Karya: Bastian Tito

Episode : SI CANTIK GILA DARI GUNUNG GEDE

Sri Paduka Ratu Penguasa Laut Utara perhatikan air di dalam nampan. Lalu berkata " Nyai Tumbal Jiwo, Patih Wira Bumi, jika memang kalian inginkan bayi itu, sebelum tengah hari besok kita akan mendapatkannya. Ada petunjuk bayi itu akan dibawa ke tanah Jawa.Terserah apa kalian ingin melakukan sekarang atau menunggu sampai bayi berada di tanah Jawa." Sri Paduka Ratu, kami dikejar waktu. Kalau boleh memohon kami ingin pekerjaan ini dilakukan sekarang juga." Kata Nyai Tumbal Jiwo. Nyi Kuncup Jingga menghadap lurus-lurus ke arah Nyai Tumbal Jiwo dan Patih Wira Bumi. "Sebagai jaminan kalian tidak berdusta dan tidak akan melanggar janji, atas nama Sri Paduka Ratu maka Patih Kerajaan selaku yang berkepentingan harus menyerahkan mata kirinya!" NyaiTumbal Jiwo tersurut satu langkah. Patih Wira Bumi melengak kaget dan pucat wajahnya.

***

PESTA besar yang diadakan Wira Bumi di Gedung Kepatihan di maksudkan untuk tanda syukur atas pengangkatan dirinya sebagai Patih Kerajaan berubah menjadi malapetaka.

Ditemani Pen
... baca selengkapnya di Wiro Sableng #159 : Bayi Satu Suro Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor Satu

Selasa, 05 Maret 2013

Lukisan Karya Anak Bangsa 2013



Semua karya Lukisan ini adalah hasil karya anak bangsa yg mengikuti Lomba Melukis pada hari Sabtu, 23 Februari 2013, di sebuah sekolah swasta dengan kurikulum'internasional' di jogja utara.Budi Mulia Dua,sayang sekali admin tdk mendokumentasi hasil karya siapa siapa lukisan ini..


Semua karya Lukisan ini adalah hasil karya anak bangsa yg mengikuti Lomba Melukis pada hari Sabtu, 23 Februari 2013, di sebuah sekolah swasta dengan kurikulum'internasional' di jogja utara.Budi Mulia Dua,sayang sekali admin tdk mendokumentasi hasil karya siapa siapa lukisan ini..


Semua karya Lukisan ini adalah hasil karya anak bangsa yg mengikuti Lomba Melukis pada hari Sabtu, 23 Februari 2013, di sebuah sekolah swasta dengan kurikulum'internasional' di jogja utara.Budi Mulia Dua,sayang sekali admin tdk mendokumentasi hasil karya siapa siapa lukisan ini..

Semua karya Lukisan ini adalah hasil karya anak bangsa yg mengikuti Lomba Melukis pada hari Sabtu, 23 Februari 2013, di sebuah sekolah swasta dengan kurikulum'internasional' di jogja utara.Budi Mulia Dua,sayang sekali admin tdk mendokumentasi hasil karya siapa siapa lukisan ini..


Semua karya Lukisan ini adalah hasil karya anak bangsa yg mengikuti Lomba Melukis pada hari Sabtu, 23 Februari 2013, di sebuah sekolah swasta dengan kurikulum'internasional' di jogja utara.Budi Mulia Dua,sayang sekali admin tdk mendokumentasi hasil karya siapa siapa lukisan ini..


Semua karya Lukisan ini adalah hasil karya anak bangsa yg mengikuti Lomba Melukis pada hari Sabtu, 23 Februari 2013, di sebuah sekolah swasta dengan kurikulum'internasional' di jogja utara.Budi Mulia Dua,sayang sekali admin tdk mendokumentasi hasil karya siapa siapa lukisan ini..


Semua karya Lukisan ini adalah hasil karya anak bangsa yg mengikuti Lomba Melukis pada hari Sabtu, 23 Februari 2013, di sebuah sekolah swasta dengan kurikulum'internasional' di jogja utara.Budi Mulia Dua,sayang sekali admin tdk mendokumentasi hasil karya siapa siapa lukisan ini..

Minggu, 03 Maret 2013

Seminar APRESIASI SENI RUPA ~ Meningkatkan Apresiasi Seni Rupa Anak,



NASKAH KUSS INDARTO(smuga beliau berkenan untuk di share yaaa..??!!)
YANG DISAMPAIKAN PADA
Seminar APRESIASI SENI RUPA 
Meningkatkan Apresiasi Seni Rupa Anak,

Senin,24 Des12. Hotel Ruba Grha

Wednesday, February 07, 2007
Kasihan Lomba Lukis Anak
 Minggu siang, 4 Februari kemarin, aku, mas Hermanu, dan Samuel Indratma di-dhapuk jadi juri lomba mewarnai dan lukis anak di Jogja Exhibition Centre (JEC). Panitianya Kelompok Kompas Gramedia dan Bank BNI 46. Ada sekitar 250-an lebih peserta. Seperti biasa, riuh rendah. Apalagi itu hari terakhir pameran buku yang telah berlangsung 4 hari sebelumnya. Parkiran penuh, pengunjung berjubel.
Proses penjurian relatif cepat. Apalagi waktu yang diberikan juga mepet. Jam sebelas gambar masuk, dan jam 12 diharapkan proses penjurian bisa selesai semuanya. Kami bertiga sih gak masalah. Cuman ya sebenarnya ada yang bisa lebih detil didiskusikan, seperti tentang kecenderungan hegemoniknya karya-karya anak-anak sanggar yang sudah sangat stereotip. Tapi ya udah, waktu sempit sekali, meski bukan berarti sembarangan pola penilaiannya.
Lalu hasil penilaiannya diumumkan. Kami bertiga sendiri yang mengumumkan, bahkan dengan menyertakan gambar para pemenangnya. Biar lebih terbuka. Situasi keriuhan cepat selesai karena yang menang senang, yang belum berhasil ya langsung pulang.
Nah, ketika kami bertiga melangkah pulang, aku mendengar seorang bapak yang seperti sengaja menyindir kami dengan nyeletuk sambil matanya menatapku: “Payah! Gak bikin maju!” Aku berhenti karena merasa bahwa aku yang jadi subyek omelannya. Kuhampiri dan sesopan mungkin kuajak bicara.
“Anak bapak ikut lomba, Pak?”
“Ya, dan penjuriannya payah, dan tidak maju!”
“Kebetulan saya yang menjuri, pak. Kira-kira menurut bapak problemnya apa?” tanyaku.
“Ya, kenapa gambar yang belum selesai yang dimenangkan? Wong lukisan dengan pewarnaan yang sudah penuh masih banyak kok. Malah gambar yang setengah kosong yang jadi juara.,” sergah sang bapak. Istrinya pun kemudian nyerocos jauh lebih dahsyat, lebih bawel, dengan membombardir banyak pertanyaan dan pernyataan.
Kemudian kami terlibat dalam obrolan cukup panas. Hingga aku kemudian bertanya lagi ke bapak-ibu itu, “Pak, anak bapak sering juara lomba menggambar?”
“Jelas. Dia lebih sering juara daripada kalah!” jawabnya keras.
“Terus, apa bapak pernah menumbuhkan mental “siap untuk kalah” pada anak bapak?” tanyaku.
Bapak itu kelihatan sekali tergeragap lalu menjawab: “Lho itu kan urusan saya! Anda saja kalau menjadi juri jangan terlau idealis, bla, bla, ba”
“Jangan begitu, pak. Ini penting lho. Atau jangan-jangan bapak yang tak siap mental ketika anak anda tidak menang.” Aku berusaha keras ngomong hal itu dengan tersenyum karena dialog terasa begitu panas.
Nah, dari situlah aku lalu balik membombardir pertanyaan dan pernyataan ke mereka. Ya gak sampai harus keluarin teorinya Victor Lowensfeld atau teori para pakar seni rupa anak lainnya segala sih. Yang gampang-gampang aja, tapi kira-kira masuk di akal. Gantian gak mau kalah. Apalagi (juga kebetulan) mas Hermanu yang pendiam juga hanya senam-senyum. Samuel malah ketemu temennya dan asyik ngobrol dengan berpindah tempat. Busyet! Hahahaha.
Kasus ini tentu bukan yang pertama. Pasti sering ditemui pada tiap kesempatan lomba semacam ini. Dan kukira ini sudah mulai masuk dalam lorong persoalan yang kritis yang perlu pembenahan. Termasuk juri yang juga perlu introspeksi. Aku sih terus berusaha meng-upgrade kemampuan dengan banyak baca soal terkait seperti psikologi anak, atau bicara dengan banyak orang termasuk para orang tua yang menitipkan anaknya di sanggar, para pemilik sanggar, dan lainnya. Tapi terkadang kebarengan menjadi juri dengan orang yang tak tahu apa-apa. Misalnya dengan wartawan desk ekonomi hanya karena dia temennya direktur yang mensponsori acara lomba lukis tersebut. Ruwet.
Tapi yang kuamati, juga terlihat dari dialog dengan bapak tadi, problem mendasar dari rusaknya omba lukis anak adalah karena peran orang tua yang telah bergeser perspektif pandangnya terhadap lomba ini. Lomba lukis seperti menjadi ajang pembuktian bagi keberhasilan orang tua dalam memasukan anak-anaknya ke sanggar. Kalau kalah, apa gunanya masuk sanggar. Gagal dong, begitu kira-kira. Dan tentu saja sikap orang tua yang mulai mananamkan mental menang saja, bukan mental siap kalah pada anak-anaknya sehingga ketika mereka gagal menang, jurilah yang menjadi sasarannya. Bagi sebagian mereka pun, anak telah menjadi kuda pacu untuk mendapatkan pundi-pundi rupiah lewat (menjuarai) lomba lukis. Ini mental industrial yang pantas dikutuk.
Seperti salah satu kalimat bapak yang protes tadi bahwa: “Anak saya tuh sering dapet uang banyak dari lomba lukis”. Wah, wah, mana tanggung jawab mereka sebagai orang tua untuk cari duit bagi anak-anaknya, bukan sebaliknya si anak yang dijadikan tambang uang. Kacaulah. Makanya, terus terang, aku begitu panas menanggapi bapak-ibu yang protes ketika anaknya kalah berlomba. Mbok ya bercerminlah. Huh, Indonesia banget!
Aku pun juga mau bercermin, ah.            

Tuesday, January 22, 2008

Ternyata, hari Minggu sore, 20 Januari 2008 kemarin ada yang nengok weblogku ini, dan komentar banyak. Tampaknya beliau, seorang bapak, kecewa dan kemudian komplain atas salah satu catatanku yang kutulis pada tanggal 7 Februari 2007 lalu (klik aja http://kuss-indarto.blogspot.com/2007_02_01_archive.html). Sang bapak ini berkomentar dari, mungkin, weblog anak atau keponakannya di http://stupidenough.blogspot.com/. Isi kekecewaan dan komplain yang diposting 5 tahap itu bunyinya adalah sebagai berikut:
Setelah membaca artikel anda yang berjudul "kasihan lomba lukis anak" yang dipoting pada februari 2007, saya selaku subjek yang anda bicarakan karena waktu itu yang berdiskusi dengan anda adalah saya dan istri saya. apa yang anda tulis itu SAMA SEKALI TIDAK BENAR DAN MENYALAHKAN SAYA.
Apalagi anda menulis "istrinyapun nyerocos jauh lebih dahsyat, lebih bawel dengan membombardir banyak pertanyaan dan pertanyaan" (paragraf 5, jika anda lupa). Kapan istri saya berbicara seperti yang anda TUDUHKAN. Makanya, kalau diskusi, buka telinga lebar lebar, kalau perlu bersihkan dulu dari kotoran yang ada. HATI-HATI BUNG, JIKA ANDA MEMPOSTING ARTIKEL DI INTERNET! INGAT! ANDA SEORANG KURATOR! MESTINYA ANDA MEMILIKI INTELEGENSI YANG SANGAT TINGGI! BUKAN MENGOBRAL ARTIKEL MURAHAN DAN TIDAK BERMUTU SERTA SUMBENYA HANYA SEPIHAK
Jika ingatan anda masih tajam (saya harap begitu), waktu itu saya menanyakan kepada 2 anak peserta lomba dihadapan saudara, "gimana gambar pemenangnya dik?" mereka (anak2 itu) menjawab,"GAMBAR KAYAK GITU KOK MENANG?" itu jawaban MURNIdari anak-anak yang belum mengerti teori Victor Lowensfeld, ataupun PABLO PICASSO. Waktu itu saya menyarankan agar proses penjurian yang sepeti ini jangan terulang lagi. Kasihan anak-anak yang telah bekerja keras mengekspresikan seninya. Kalau mereka tegang dalam melukis, bukan karena tekanan dari orang tua, tapi karena PEMBATASAN WAKTU. Pelukis mana yang bisa membuat lukisan seperti apa yang mereka lakukan dalam waktu 1 jam dan tidak tegang?
Maaf saya baru sempat membaca blog ini karena baru-baru ini tersebar artikel anda di kalangan masyarakat seni anak. dan sebenarnya waktu itu sudah saya anggap selesai karena hanya diskusi, tapi tenryata anda membuat opini lain yang menyudutkan saya dan menyulut emosi para orang tua komunitas seni anak melalui artikel yang diposting di blog anda ini.

Trimakasih.
atas nama komunitas seni anak.

*menggunakan salah satu blog milik agrineta fera.

Wah! Hahahaha!

Kalau benar bahwa tulisanku ini tersebar di "kalangan masyarakat seni anak", berarti aku boleh bersyukur karena hal yang aku pikirkan dan sebarkan tidaklah sia-sia. Telah ada yang baca, menyerap, meski tidak harus di koran, atau media lain yang lebih populis.

Namun beberapa hal yang bisa aku catat di sini, sekaligus untuk menggarisbawahi komplain sang bapak itu, antara lain bahwa:

1. Saya ingin memberi penegasan bahwa pengharapanku tentang pembenahan lomba lukis anak di Yogyakarta (juga kota lain) bisa terus dilakukan dengan lebih maju dan menyeluruh. Problem juri yang tidak berkompeten, dan tidak berkualitas, tapi punya banyak kepentingan negatif, masih saja sering "bergentayangan" di lomba lukis anak. Juga penyelenggara yang tidak profesional, hanya menangguk keuntungan semata, semoga bisa cepat-cepat dikoreksi oleh publik, termasuk oleh peserta lomba sendiri.

2. Cara berpikir mundur ihwal minat untuk mengikuti lomba lukis anak dengan target mendapat juara mesti dipangkas dalam pikiran sang anak dan orang tuanya. Si bapak yang komplain di atas, sayang sekali, tidak memberi penjelasan tentang hal itu. Dia tidak menyanggah soal "tuduhanku" bahwa sang anak diajari untuk memiliki "mental siap kalah", bukan hanya "mental juara". Ini titik soal paling penting dalam ritus lomba lukis anak di sekitar kita dari waktu ke waktu yang kini semakin industrial saja.

3. Oleh karenanya, sudah saatnya sistem pemeringkatan (ranking) dalam lomba lukis anak sudah saatnya dihilangkan. Kalau toh masih ada, cukup penentuan 10 karya terbaik, atau 5 karya terbaik, tanpa harus ada juara 1, 2, 3, dan seterusnya. Sistem ini telah sekian lama menjebak pola pikir para anak dan orang tua, juga para pengasuh sanggar lukis anak, sebagai bahan legitimasi tunggal atas "prestasi" mereka. Padahal "prestasi" itu, bisa jadi, penuh intrik mafiosi di dalamnya. Yang jelas, belum tentu mendidik.

4. Saya tak peduli dengan komplain si bapak kecewa itu soal detil peristiwa itu. Masing-masing punya perspektif. Tapi hal paling urgen, aku tidak menyebut nama dengan terang, sehingga tidak menyudutkan seseorang secara transparan. Ini hubungannya dengan soal hukum, dan aku cukup sadar dengan kemungkinan itu. Dan, kenapa sang bapak tidak menulis secara lebih lengkap di weblog sendiri, atau di surat kabar, entah artikel atau surat pembaca? Biar sepadan, gitu loh! Dan argumentatiflah, jangan cuma marah-marah, ya pak! Negeri ini sudah terlalu banyak pemarah yang tak ada gunanya.

5. Kenapa sang bapak ini mengatasnamakan komunitas seni anak? Kenapa tidak atas nama pribadi saja? Ini langkah berbahaya kalau suara keberatan atau komplain pribadi dengan serta-merta dicampur-adukkan sebagai suara komunitas atau sekelomok orang? Apakah bapak ini cukup representatif menjadi perwakilan orang banyak?

Waduh, waduh. Marilah bercermin bersama!
                                                      
Wednesday, February 07, 2007
Kasihan Lomba Lukis Anak

Minggu siang, 4 Februari kemarin, aku, mas Hermanu, dan Samuel Indratma di-dhapuk jadi juri lomba mewarnai dan lukis anak di Jogja Exhibition Centre (JEC). Panitianya Kelompok Kompas Gramedia dan Bank BNI 46. Ada sekitar 250-an lebih peserta. Seperti biasa, riuh rendah. Apalagi itu hari terakhir pameran buku yang telah berlangsung 4 hari sebelumnya. Parkiran penuh, pengunjung berjubel.
Proses penjurian relatif cepat. Apalagi waktu yang diberikan juga mepet. Jam sebelas gambar masuk, dan jam 12 diharapkan proses penjurian bisa selesai semuanya. Kami bertiga sih gak masalah. Cuman ya sebenarnya ada yang bisa lebih detil didiskusikan, seperti tentang kecenderungan hegemoniknya karya-karya anak-anak sanggar yang sudah sangat stereotip. Tapi ya udah, waktu sempit sekali, meski bukan berarti sembarangan pola penilaiannya.
Lalu hasil penilaiannya diumumkan. Kami bertiga sendiri yang mengumumkan, bahkan dengan menyertakan gambar para pemenangnya. Biar lebih terbuka. Situasi keriuhan cepat selesai karena yang menang senang, yang belum berhasil ya langsung pulang.
Nah, ketika kami bertiga melangkah pulang, aku mendengar seorang bapak yang seperti sengaja menyindir kami dengan nyeletuk sambil matanya menatapku: “Payah! Gak bikin maju!” Aku berhenti karena merasa bahwa aku yang jadi subyek omelannya. Kuhampiri dan sesopan mungkin kuajak bicara.
“Anak bapak ikut lomba, Pak?”
“Ya, dan penjuriannya payah, dan tidak maju!”
“Kebetulan saya yang menjuri, pak. Kira-kira menurut bapak problemnya apa?” tanyaku.
“Ya, kenapa gambar yang belum selesai yang dimenangkan? Wong lukisan dengan pewarnaan yang sudah penuh masih banyak kok. Malah gambar yang setengah kosong yang jadi juara.,” sergah sang bapak. Istrinya pun kemudian nyerocos jauh lebih dahsyat, lebih bawel, dengan membombardir banyak pertanyaan dan pernyataan.
Kemudian kami terlibat dalam obrolan cukup panas. Hingga aku kemudian bertanya lagi ke bapak-ibu itu, “Pak, anak bapak sering juara lomba menggambar?”
“Jelas. Dia lebih sering juara daripada kalah!” jawabnya keras.
“Terus, apa bapak pernah menumbuhkan mental “siap untuk kalah” pada anak bapak?” tanyaku.
Bapak itu kelihatan sekali tergeragap lalu menjawab: “Lho itu kan urusan saya! Anda saja kalau menjadi juri jangan terlau idealis, bla, bla, ba”
“Jangan begitu, pak. Ini penting lho. Atau jangan-jangan bapak yang tak siap mental ketika anak anda tidak menang.” Aku berusaha keras ngomong hal itu dengan tersenyum karena dialog terasa begitu panas.
Nah, dari situlah aku lalu balik membombardir pertanyaan dan pernyataan ke mereka. Ya gak sampai harus keluarin teorinya Victor Lowensfeld atau teori para pakar seni rupa anak lainnya segala sih. Yang gampang-gampang aja, tapi kira-kira masuk di akal. Gantian gak mau kalah. Apalagi (juga kebetulan) mas Hermanu yang pendiam juga hanya senam-senyum. Samuel malah ketemu temennya dan asyik ngobrol dengan berpindah tempat. Busyet! Hahahaha.
Kasus ini tentu bukan yang pertama. Pasti sering ditemui pada tiap kesempatan lomba semacam ini. Dan kukira ini sudah mulai masuk dalam lorong persoalan yang kritis yang perlu pembenahan. Termasuk juri yang juga perlu introspeksi. Aku sih terus berusaha meng-upgrade kemampuan dengan banyak baca soal terkait seperti psikologi anak, atau bicara dengan banyak orang termasuk para orang tua yang menitipkan anaknya di sanggar, para pemilik sanggar, dan lainnya. Tapi terkadang kebarengan menjadi juri dengan orang yang tak tahu apa-apa. Misalnya dengan wartawan desk ekonomi hanya karena dia temennya direktur yang mensponsori acara lomba lukis tersebut. Ruwet.
Tapi yang kuamati, juga terlihat dari dialog dengan bapak tadi, problem mendasar dari rusaknya omba lukis anak adalah karena peran orang tua yang telah bergeser perspektif pandangnya terhadap lomba ini. Lomba lukis seperti menjadi ajang pembuktian bagi keberhasilan orang tua dalam memasukan anak-anaknya ke sanggar. Kalau kalah, apa gunanya masuk sanggar. Gagal dong, begitu kira-kira. Dan tentu saja sikap orang tua yang mulai mananamkan mental menang saja, bukan mental siap kalah pada anak-anaknya sehingga ketika mereka gagal menang, jurilah yang menjadi sasarannya. Bagi sebagian mereka pun, anak telah menjadi kuda pacu untuk mendapatkan pundi-pundi rupiah lewat (menjuarai) lomba lukis. Ini mental industrial yang pantas dikutuk.
Seperti salah satu kalimat bapak yang protes tadi bahwa: “Anak saya tuh sering dapet uang banyak dari lomba lukis”. Wah, wah, mana tanggung jawab mereka sebagai orang tua untuk cari duit bagi anak-anaknya, bukan sebaliknya si anak yang dijadikan tambang uang. Kacaulah. Makanya, terus terang, aku begitu panas menanggapi bapak-ibu yang protes ketika anaknya kalah berlomba. Mbok ya bercerminlah. Huh, Indonesia banget!
Aku pun juga mau bercermin, ah.

Tuesday, January 22, 2008

Ternyata, hari Minggu sore, 20 Januari 2008 kemarin ada yang nengok weblogku ini, dan komentar banyak. Tampaknya beliau, seorang bapak, kecewa dan kemudian komplain atas salah satu catatanku yang kutulis pada tanggal 7 Februari 2007 lalu (klik aja http://kuss-indarto.blogspot.com/2007_02_01_archive.html). Sang bapak ini berkomentar dari, mungkin, weblog anak atau keponakannya di http://stupidenough.blogspot.com/. Isi kekecewaan dan komplain yang diposting 5 tahap itu bunyinya adalah sebagai berikut:
Setelah membaca artikel anda yang berjudul "kasihan lomba lukis anak" yang dipoting pada februari 2007, saya selaku subjek yang anda bicarakan karena waktu itu yang berdiskusi dengan anda adalah saya dan istri saya. apa yang anda tulis itu SAMA SEKALI TIDAK BENAR DAN MENYALAHKAN SAYA.
Apalagi anda menulis "istrinyapun nyerocos jauh lebih dahsyat, lebih bawel dengan membombardir banyak pertanyaan dan pertanyaan" (paragraf 5, jika anda lupa). Kapan istri saya berbicara seperti yang anda TUDUHKAN. Makanya, kalau diskusi, buka telinga lebar lebar, kalau perlu bersihkan dulu dari kotoran yang ada. HATI-HATI BUNG, JIKA ANDA MEMPOSTING ARTIKEL DI INTERNET! INGAT! ANDA SEORANG KURATOR! MESTINYA ANDA MEMILIKI INTELEGENSI YANG SANGAT TINGGI! BUKAN MENGOBRAL ARTIKEL MURAHAN DAN TIDAK BERMUTU SERTA SUMBENYA HANYA SEPIHAK
Jika ingatan anda masih tajam (saya harap begitu), waktu itu saya menanyakan kepada 2 anak peserta lomba dihadapan saudara, "gimana gambar pemenangnya dik?" mereka (anak2 itu) menjawab,"GAMBAR KAYAK GITU KOK MENANG?" itu jawaban MURNIdari anak-anak yang belum mengerti teori Victor Lowensfeld, ataupun PABLO PICASSO. Waktu itu saya menyarankan agar proses penjurian yang sepeti ini jangan terulang lagi. Kasihan anak-anak yang telah bekerja keras mengekspresikan seninya. Kalau mereka tegang dalam melukis, bukan karena tekanan dari orang tua, tapi karena PEMBATASAN WAKTU. Pelukis mana yang bisa membuat lukisan seperti apa yang mereka lakukan dalam waktu 1 jam dan tidak tegang?
Maaf saya baru sempat membaca blog ini karena baru-baru ini tersebar artikel anda di kalangan masyarakat seni anak. dan sebenarnya waktu itu sudah saya anggap selesai karena hanya diskusi, tapi tenryata anda membuat opini lain yang menyudutkan saya dan menyulut emosi para orang tua komunitas seni anak melalui artikel yang diposting di blog anda ini.

Trimakasih.
atas nama komunitas seni anak.

*menggunakan salah satu blog milik agrineta fera.

Wah! Hahahaha!

Kalau benar bahwa tulisanku ini tersebar di "kalangan masyarakat seni anak", berarti aku boleh bersyukur karena hal yang aku pikirkan dan sebarkan tidaklah sia-sia. Telah ada yang baca, menyerap, meski tidak harus di koran, atau media lain yang lebih populis.

Namun beberapa hal yang bisa aku catat di sini, sekaligus untuk menggarisbawahi komplain sang bapak itu, antara lain bahwa:

1. Saya ingin memberi penegasan bahwa pengharapanku tentang pembenahan lomba lukis anak di Yogyakarta (juga kota lain) bisa terus dilakukan dengan lebih maju dan menyeluruh. Problem juri yang tidak berkompeten, dan tidak berkualitas, tapi punya banyak kepentingan negatif, masih saja sering "bergentayangan" di lomba lukis anak. Juga penyelenggara yang tidak profesional, hanya menangguk keuntungan semata, semoga bisa cepat-cepat dikoreksi oleh publik, termasuk oleh peserta lomba sendiri.

2. Cara berpikir mundur ihwal minat untuk mengikuti lomba lukis anak dengan target mendapat juara mesti dipangkas dalam pikiran sang anak dan orang tuanya. Si bapak yang komplain di atas, sayang sekali, tidak memberi penjelasan tentang hal itu. Dia tidak menyanggah soal "tuduhanku" bahwa sang anak diajari untuk memiliki "mental siap kalah", bukan hanya "mental juara". Ini titik soal paling penting dalam ritus lomba lukis anak di sekitar kita dari waktu ke waktu yang kini semakin industrial saja.

3. Oleh karenanya, sudah saatnya sistem pemeringkatan (ranking) dalam lomba lukis anak sudah saatnya dihilangkan. Kalau toh masih ada, cukup penentuan 10 karya terbaik, atau 5 karya terbaik, tanpa harus ada juara 1, 2, 3, dan seterusnya. Sistem ini telah sekian lama menjebak pola pikir para anak dan orang tua, juga para pengasuh sanggar lukis anak, sebagai bahan legitimasi tunggal atas "prestasi" mereka. Padahal "prestasi" itu, bisa jadi, penuh intrik mafiosi di dalamnya. Yang jelas, belum tentu mendidik.

4. Saya tak peduli dengan komplain si bapak kecewa itu soal detil peristiwa itu. Masing-masing punya perspektif. Tapi hal paling urgen, aku tidak menyebut nama dengan terang, sehingga tidak menyudutkan seseorang secara transparan. Ini hubungannya dengan soal hukum, dan aku cukup sadar dengan kemungkinan itu. Dan, kenapa sang bapak tidak menulis secara lebih lengkap di weblog sendiri, atau di surat kabar, entah artikel atau surat pembaca? Biar sepadan, gitu loh! Dan argumentatiflah, jangan cuma marah-marah, ya pak! Negeri ini sudah terlalu banyak pemarah yang tak ada gunanya.

5. Kenapa sang bapak ini mengatasnamakan komunitas seni anak? Kenapa tidak atas nama pribadi saja? Ini langkah berbahaya kalau suara keberatan atau komplain pribadi dengan serta-merta dicampur-adukkan sebagai suara komunitas atau sekelomok orang? Apakah bapak ini cukup representatif menjadi perwakilan orang banyak?

Waduh, waduh. Marilah bercermin bersama!