Minggu, 03 Maret 2013

Seminar APRESIASI SENI RUPA ~ Meningkatkan Apresiasi Seni Rupa Anak,



NASKAH KUSS INDARTO(smuga beliau berkenan untuk di share yaaa..??!!)
YANG DISAMPAIKAN PADA
Seminar APRESIASI SENI RUPA 
Meningkatkan Apresiasi Seni Rupa Anak,

Senin,24 Des12. Hotel Ruba Grha

Wednesday, February 07, 2007
Kasihan Lomba Lukis Anak
 Minggu siang, 4 Februari kemarin, aku, mas Hermanu, dan Samuel Indratma di-dhapuk jadi juri lomba mewarnai dan lukis anak di Jogja Exhibition Centre (JEC). Panitianya Kelompok Kompas Gramedia dan Bank BNI 46. Ada sekitar 250-an lebih peserta. Seperti biasa, riuh rendah. Apalagi itu hari terakhir pameran buku yang telah berlangsung 4 hari sebelumnya. Parkiran penuh, pengunjung berjubel.
Proses penjurian relatif cepat. Apalagi waktu yang diberikan juga mepet. Jam sebelas gambar masuk, dan jam 12 diharapkan proses penjurian bisa selesai semuanya. Kami bertiga sih gak masalah. Cuman ya sebenarnya ada yang bisa lebih detil didiskusikan, seperti tentang kecenderungan hegemoniknya karya-karya anak-anak sanggar yang sudah sangat stereotip. Tapi ya udah, waktu sempit sekali, meski bukan berarti sembarangan pola penilaiannya.
Lalu hasil penilaiannya diumumkan. Kami bertiga sendiri yang mengumumkan, bahkan dengan menyertakan gambar para pemenangnya. Biar lebih terbuka. Situasi keriuhan cepat selesai karena yang menang senang, yang belum berhasil ya langsung pulang.
Nah, ketika kami bertiga melangkah pulang, aku mendengar seorang bapak yang seperti sengaja menyindir kami dengan nyeletuk sambil matanya menatapku: “Payah! Gak bikin maju!” Aku berhenti karena merasa bahwa aku yang jadi subyek omelannya. Kuhampiri dan sesopan mungkin kuajak bicara.
“Anak bapak ikut lomba, Pak?”
“Ya, dan penjuriannya payah, dan tidak maju!”
“Kebetulan saya yang menjuri, pak. Kira-kira menurut bapak problemnya apa?” tanyaku.
“Ya, kenapa gambar yang belum selesai yang dimenangkan? Wong lukisan dengan pewarnaan yang sudah penuh masih banyak kok. Malah gambar yang setengah kosong yang jadi juara.,” sergah sang bapak. Istrinya pun kemudian nyerocos jauh lebih dahsyat, lebih bawel, dengan membombardir banyak pertanyaan dan pernyataan.
Kemudian kami terlibat dalam obrolan cukup panas. Hingga aku kemudian bertanya lagi ke bapak-ibu itu, “Pak, anak bapak sering juara lomba menggambar?”
“Jelas. Dia lebih sering juara daripada kalah!” jawabnya keras.
“Terus, apa bapak pernah menumbuhkan mental “siap untuk kalah” pada anak bapak?” tanyaku.
Bapak itu kelihatan sekali tergeragap lalu menjawab: “Lho itu kan urusan saya! Anda saja kalau menjadi juri jangan terlau idealis, bla, bla, ba”
“Jangan begitu, pak. Ini penting lho. Atau jangan-jangan bapak yang tak siap mental ketika anak anda tidak menang.” Aku berusaha keras ngomong hal itu dengan tersenyum karena dialog terasa begitu panas.
Nah, dari situlah aku lalu balik membombardir pertanyaan dan pernyataan ke mereka. Ya gak sampai harus keluarin teorinya Victor Lowensfeld atau teori para pakar seni rupa anak lainnya segala sih. Yang gampang-gampang aja, tapi kira-kira masuk di akal. Gantian gak mau kalah. Apalagi (juga kebetulan) mas Hermanu yang pendiam juga hanya senam-senyum. Samuel malah ketemu temennya dan asyik ngobrol dengan berpindah tempat. Busyet! Hahahaha.
Kasus ini tentu bukan yang pertama. Pasti sering ditemui pada tiap kesempatan lomba semacam ini. Dan kukira ini sudah mulai masuk dalam lorong persoalan yang kritis yang perlu pembenahan. Termasuk juri yang juga perlu introspeksi. Aku sih terus berusaha meng-upgrade kemampuan dengan banyak baca soal terkait seperti psikologi anak, atau bicara dengan banyak orang termasuk para orang tua yang menitipkan anaknya di sanggar, para pemilik sanggar, dan lainnya. Tapi terkadang kebarengan menjadi juri dengan orang yang tak tahu apa-apa. Misalnya dengan wartawan desk ekonomi hanya karena dia temennya direktur yang mensponsori acara lomba lukis tersebut. Ruwet.
Tapi yang kuamati, juga terlihat dari dialog dengan bapak tadi, problem mendasar dari rusaknya omba lukis anak adalah karena peran orang tua yang telah bergeser perspektif pandangnya terhadap lomba ini. Lomba lukis seperti menjadi ajang pembuktian bagi keberhasilan orang tua dalam memasukan anak-anaknya ke sanggar. Kalau kalah, apa gunanya masuk sanggar. Gagal dong, begitu kira-kira. Dan tentu saja sikap orang tua yang mulai mananamkan mental menang saja, bukan mental siap kalah pada anak-anaknya sehingga ketika mereka gagal menang, jurilah yang menjadi sasarannya. Bagi sebagian mereka pun, anak telah menjadi kuda pacu untuk mendapatkan pundi-pundi rupiah lewat (menjuarai) lomba lukis. Ini mental industrial yang pantas dikutuk.
Seperti salah satu kalimat bapak yang protes tadi bahwa: “Anak saya tuh sering dapet uang banyak dari lomba lukis”. Wah, wah, mana tanggung jawab mereka sebagai orang tua untuk cari duit bagi anak-anaknya, bukan sebaliknya si anak yang dijadikan tambang uang. Kacaulah. Makanya, terus terang, aku begitu panas menanggapi bapak-ibu yang protes ketika anaknya kalah berlomba. Mbok ya bercerminlah. Huh, Indonesia banget!
Aku pun juga mau bercermin, ah.            

Tuesday, January 22, 2008

Ternyata, hari Minggu sore, 20 Januari 2008 kemarin ada yang nengok weblogku ini, dan komentar banyak. Tampaknya beliau, seorang bapak, kecewa dan kemudian komplain atas salah satu catatanku yang kutulis pada tanggal 7 Februari 2007 lalu (klik aja http://kuss-indarto.blogspot.com/2007_02_01_archive.html). Sang bapak ini berkomentar dari, mungkin, weblog anak atau keponakannya di http://stupidenough.blogspot.com/. Isi kekecewaan dan komplain yang diposting 5 tahap itu bunyinya adalah sebagai berikut:
Setelah membaca artikel anda yang berjudul "kasihan lomba lukis anak" yang dipoting pada februari 2007, saya selaku subjek yang anda bicarakan karena waktu itu yang berdiskusi dengan anda adalah saya dan istri saya. apa yang anda tulis itu SAMA SEKALI TIDAK BENAR DAN MENYALAHKAN SAYA.
Apalagi anda menulis "istrinyapun nyerocos jauh lebih dahsyat, lebih bawel dengan membombardir banyak pertanyaan dan pertanyaan" (paragraf 5, jika anda lupa). Kapan istri saya berbicara seperti yang anda TUDUHKAN. Makanya, kalau diskusi, buka telinga lebar lebar, kalau perlu bersihkan dulu dari kotoran yang ada. HATI-HATI BUNG, JIKA ANDA MEMPOSTING ARTIKEL DI INTERNET! INGAT! ANDA SEORANG KURATOR! MESTINYA ANDA MEMILIKI INTELEGENSI YANG SANGAT TINGGI! BUKAN MENGOBRAL ARTIKEL MURAHAN DAN TIDAK BERMUTU SERTA SUMBENYA HANYA SEPIHAK
Jika ingatan anda masih tajam (saya harap begitu), waktu itu saya menanyakan kepada 2 anak peserta lomba dihadapan saudara, "gimana gambar pemenangnya dik?" mereka (anak2 itu) menjawab,"GAMBAR KAYAK GITU KOK MENANG?" itu jawaban MURNIdari anak-anak yang belum mengerti teori Victor Lowensfeld, ataupun PABLO PICASSO. Waktu itu saya menyarankan agar proses penjurian yang sepeti ini jangan terulang lagi. Kasihan anak-anak yang telah bekerja keras mengekspresikan seninya. Kalau mereka tegang dalam melukis, bukan karena tekanan dari orang tua, tapi karena PEMBATASAN WAKTU. Pelukis mana yang bisa membuat lukisan seperti apa yang mereka lakukan dalam waktu 1 jam dan tidak tegang?
Maaf saya baru sempat membaca blog ini karena baru-baru ini tersebar artikel anda di kalangan masyarakat seni anak. dan sebenarnya waktu itu sudah saya anggap selesai karena hanya diskusi, tapi tenryata anda membuat opini lain yang menyudutkan saya dan menyulut emosi para orang tua komunitas seni anak melalui artikel yang diposting di blog anda ini.

Trimakasih.
atas nama komunitas seni anak.

*menggunakan salah satu blog milik agrineta fera.

Wah! Hahahaha!

Kalau benar bahwa tulisanku ini tersebar di "kalangan masyarakat seni anak", berarti aku boleh bersyukur karena hal yang aku pikirkan dan sebarkan tidaklah sia-sia. Telah ada yang baca, menyerap, meski tidak harus di koran, atau media lain yang lebih populis.

Namun beberapa hal yang bisa aku catat di sini, sekaligus untuk menggarisbawahi komplain sang bapak itu, antara lain bahwa:

1. Saya ingin memberi penegasan bahwa pengharapanku tentang pembenahan lomba lukis anak di Yogyakarta (juga kota lain) bisa terus dilakukan dengan lebih maju dan menyeluruh. Problem juri yang tidak berkompeten, dan tidak berkualitas, tapi punya banyak kepentingan negatif, masih saja sering "bergentayangan" di lomba lukis anak. Juga penyelenggara yang tidak profesional, hanya menangguk keuntungan semata, semoga bisa cepat-cepat dikoreksi oleh publik, termasuk oleh peserta lomba sendiri.

2. Cara berpikir mundur ihwal minat untuk mengikuti lomba lukis anak dengan target mendapat juara mesti dipangkas dalam pikiran sang anak dan orang tuanya. Si bapak yang komplain di atas, sayang sekali, tidak memberi penjelasan tentang hal itu. Dia tidak menyanggah soal "tuduhanku" bahwa sang anak diajari untuk memiliki "mental siap kalah", bukan hanya "mental juara". Ini titik soal paling penting dalam ritus lomba lukis anak di sekitar kita dari waktu ke waktu yang kini semakin industrial saja.

3. Oleh karenanya, sudah saatnya sistem pemeringkatan (ranking) dalam lomba lukis anak sudah saatnya dihilangkan. Kalau toh masih ada, cukup penentuan 10 karya terbaik, atau 5 karya terbaik, tanpa harus ada juara 1, 2, 3, dan seterusnya. Sistem ini telah sekian lama menjebak pola pikir para anak dan orang tua, juga para pengasuh sanggar lukis anak, sebagai bahan legitimasi tunggal atas "prestasi" mereka. Padahal "prestasi" itu, bisa jadi, penuh intrik mafiosi di dalamnya. Yang jelas, belum tentu mendidik.

4. Saya tak peduli dengan komplain si bapak kecewa itu soal detil peristiwa itu. Masing-masing punya perspektif. Tapi hal paling urgen, aku tidak menyebut nama dengan terang, sehingga tidak menyudutkan seseorang secara transparan. Ini hubungannya dengan soal hukum, dan aku cukup sadar dengan kemungkinan itu. Dan, kenapa sang bapak tidak menulis secara lebih lengkap di weblog sendiri, atau di surat kabar, entah artikel atau surat pembaca? Biar sepadan, gitu loh! Dan argumentatiflah, jangan cuma marah-marah, ya pak! Negeri ini sudah terlalu banyak pemarah yang tak ada gunanya.

5. Kenapa sang bapak ini mengatasnamakan komunitas seni anak? Kenapa tidak atas nama pribadi saja? Ini langkah berbahaya kalau suara keberatan atau komplain pribadi dengan serta-merta dicampur-adukkan sebagai suara komunitas atau sekelomok orang? Apakah bapak ini cukup representatif menjadi perwakilan orang banyak?

Waduh, waduh. Marilah bercermin bersama!
                                                      
Wednesday, February 07, 2007
Kasihan Lomba Lukis Anak

Minggu siang, 4 Februari kemarin, aku, mas Hermanu, dan Samuel Indratma di-dhapuk jadi juri lomba mewarnai dan lukis anak di Jogja Exhibition Centre (JEC). Panitianya Kelompok Kompas Gramedia dan Bank BNI 46. Ada sekitar 250-an lebih peserta. Seperti biasa, riuh rendah. Apalagi itu hari terakhir pameran buku yang telah berlangsung 4 hari sebelumnya. Parkiran penuh, pengunjung berjubel.
Proses penjurian relatif cepat. Apalagi waktu yang diberikan juga mepet. Jam sebelas gambar masuk, dan jam 12 diharapkan proses penjurian bisa selesai semuanya. Kami bertiga sih gak masalah. Cuman ya sebenarnya ada yang bisa lebih detil didiskusikan, seperti tentang kecenderungan hegemoniknya karya-karya anak-anak sanggar yang sudah sangat stereotip. Tapi ya udah, waktu sempit sekali, meski bukan berarti sembarangan pola penilaiannya.
Lalu hasil penilaiannya diumumkan. Kami bertiga sendiri yang mengumumkan, bahkan dengan menyertakan gambar para pemenangnya. Biar lebih terbuka. Situasi keriuhan cepat selesai karena yang menang senang, yang belum berhasil ya langsung pulang.
Nah, ketika kami bertiga melangkah pulang, aku mendengar seorang bapak yang seperti sengaja menyindir kami dengan nyeletuk sambil matanya menatapku: “Payah! Gak bikin maju!” Aku berhenti karena merasa bahwa aku yang jadi subyek omelannya. Kuhampiri dan sesopan mungkin kuajak bicara.
“Anak bapak ikut lomba, Pak?”
“Ya, dan penjuriannya payah, dan tidak maju!”
“Kebetulan saya yang menjuri, pak. Kira-kira menurut bapak problemnya apa?” tanyaku.
“Ya, kenapa gambar yang belum selesai yang dimenangkan? Wong lukisan dengan pewarnaan yang sudah penuh masih banyak kok. Malah gambar yang setengah kosong yang jadi juara.,” sergah sang bapak. Istrinya pun kemudian nyerocos jauh lebih dahsyat, lebih bawel, dengan membombardir banyak pertanyaan dan pernyataan.
Kemudian kami terlibat dalam obrolan cukup panas. Hingga aku kemudian bertanya lagi ke bapak-ibu itu, “Pak, anak bapak sering juara lomba menggambar?”
“Jelas. Dia lebih sering juara daripada kalah!” jawabnya keras.
“Terus, apa bapak pernah menumbuhkan mental “siap untuk kalah” pada anak bapak?” tanyaku.
Bapak itu kelihatan sekali tergeragap lalu menjawab: “Lho itu kan urusan saya! Anda saja kalau menjadi juri jangan terlau idealis, bla, bla, ba”
“Jangan begitu, pak. Ini penting lho. Atau jangan-jangan bapak yang tak siap mental ketika anak anda tidak menang.” Aku berusaha keras ngomong hal itu dengan tersenyum karena dialog terasa begitu panas.
Nah, dari situlah aku lalu balik membombardir pertanyaan dan pernyataan ke mereka. Ya gak sampai harus keluarin teorinya Victor Lowensfeld atau teori para pakar seni rupa anak lainnya segala sih. Yang gampang-gampang aja, tapi kira-kira masuk di akal. Gantian gak mau kalah. Apalagi (juga kebetulan) mas Hermanu yang pendiam juga hanya senam-senyum. Samuel malah ketemu temennya dan asyik ngobrol dengan berpindah tempat. Busyet! Hahahaha.
Kasus ini tentu bukan yang pertama. Pasti sering ditemui pada tiap kesempatan lomba semacam ini. Dan kukira ini sudah mulai masuk dalam lorong persoalan yang kritis yang perlu pembenahan. Termasuk juri yang juga perlu introspeksi. Aku sih terus berusaha meng-upgrade kemampuan dengan banyak baca soal terkait seperti psikologi anak, atau bicara dengan banyak orang termasuk para orang tua yang menitipkan anaknya di sanggar, para pemilik sanggar, dan lainnya. Tapi terkadang kebarengan menjadi juri dengan orang yang tak tahu apa-apa. Misalnya dengan wartawan desk ekonomi hanya karena dia temennya direktur yang mensponsori acara lomba lukis tersebut. Ruwet.
Tapi yang kuamati, juga terlihat dari dialog dengan bapak tadi, problem mendasar dari rusaknya omba lukis anak adalah karena peran orang tua yang telah bergeser perspektif pandangnya terhadap lomba ini. Lomba lukis seperti menjadi ajang pembuktian bagi keberhasilan orang tua dalam memasukan anak-anaknya ke sanggar. Kalau kalah, apa gunanya masuk sanggar. Gagal dong, begitu kira-kira. Dan tentu saja sikap orang tua yang mulai mananamkan mental menang saja, bukan mental siap kalah pada anak-anaknya sehingga ketika mereka gagal menang, jurilah yang menjadi sasarannya. Bagi sebagian mereka pun, anak telah menjadi kuda pacu untuk mendapatkan pundi-pundi rupiah lewat (menjuarai) lomba lukis. Ini mental industrial yang pantas dikutuk.
Seperti salah satu kalimat bapak yang protes tadi bahwa: “Anak saya tuh sering dapet uang banyak dari lomba lukis”. Wah, wah, mana tanggung jawab mereka sebagai orang tua untuk cari duit bagi anak-anaknya, bukan sebaliknya si anak yang dijadikan tambang uang. Kacaulah. Makanya, terus terang, aku begitu panas menanggapi bapak-ibu yang protes ketika anaknya kalah berlomba. Mbok ya bercerminlah. Huh, Indonesia banget!
Aku pun juga mau bercermin, ah.

Tuesday, January 22, 2008

Ternyata, hari Minggu sore, 20 Januari 2008 kemarin ada yang nengok weblogku ini, dan komentar banyak. Tampaknya beliau, seorang bapak, kecewa dan kemudian komplain atas salah satu catatanku yang kutulis pada tanggal 7 Februari 2007 lalu (klik aja http://kuss-indarto.blogspot.com/2007_02_01_archive.html). Sang bapak ini berkomentar dari, mungkin, weblog anak atau keponakannya di http://stupidenough.blogspot.com/. Isi kekecewaan dan komplain yang diposting 5 tahap itu bunyinya adalah sebagai berikut:
Setelah membaca artikel anda yang berjudul "kasihan lomba lukis anak" yang dipoting pada februari 2007, saya selaku subjek yang anda bicarakan karena waktu itu yang berdiskusi dengan anda adalah saya dan istri saya. apa yang anda tulis itu SAMA SEKALI TIDAK BENAR DAN MENYALAHKAN SAYA.
Apalagi anda menulis "istrinyapun nyerocos jauh lebih dahsyat, lebih bawel dengan membombardir banyak pertanyaan dan pertanyaan" (paragraf 5, jika anda lupa). Kapan istri saya berbicara seperti yang anda TUDUHKAN. Makanya, kalau diskusi, buka telinga lebar lebar, kalau perlu bersihkan dulu dari kotoran yang ada. HATI-HATI BUNG, JIKA ANDA MEMPOSTING ARTIKEL DI INTERNET! INGAT! ANDA SEORANG KURATOR! MESTINYA ANDA MEMILIKI INTELEGENSI YANG SANGAT TINGGI! BUKAN MENGOBRAL ARTIKEL MURAHAN DAN TIDAK BERMUTU SERTA SUMBENYA HANYA SEPIHAK
Jika ingatan anda masih tajam (saya harap begitu), waktu itu saya menanyakan kepada 2 anak peserta lomba dihadapan saudara, "gimana gambar pemenangnya dik?" mereka (anak2 itu) menjawab,"GAMBAR KAYAK GITU KOK MENANG?" itu jawaban MURNIdari anak-anak yang belum mengerti teori Victor Lowensfeld, ataupun PABLO PICASSO. Waktu itu saya menyarankan agar proses penjurian yang sepeti ini jangan terulang lagi. Kasihan anak-anak yang telah bekerja keras mengekspresikan seninya. Kalau mereka tegang dalam melukis, bukan karena tekanan dari orang tua, tapi karena PEMBATASAN WAKTU. Pelukis mana yang bisa membuat lukisan seperti apa yang mereka lakukan dalam waktu 1 jam dan tidak tegang?
Maaf saya baru sempat membaca blog ini karena baru-baru ini tersebar artikel anda di kalangan masyarakat seni anak. dan sebenarnya waktu itu sudah saya anggap selesai karena hanya diskusi, tapi tenryata anda membuat opini lain yang menyudutkan saya dan menyulut emosi para orang tua komunitas seni anak melalui artikel yang diposting di blog anda ini.

Trimakasih.
atas nama komunitas seni anak.

*menggunakan salah satu blog milik agrineta fera.

Wah! Hahahaha!

Kalau benar bahwa tulisanku ini tersebar di "kalangan masyarakat seni anak", berarti aku boleh bersyukur karena hal yang aku pikirkan dan sebarkan tidaklah sia-sia. Telah ada yang baca, menyerap, meski tidak harus di koran, atau media lain yang lebih populis.

Namun beberapa hal yang bisa aku catat di sini, sekaligus untuk menggarisbawahi komplain sang bapak itu, antara lain bahwa:

1. Saya ingin memberi penegasan bahwa pengharapanku tentang pembenahan lomba lukis anak di Yogyakarta (juga kota lain) bisa terus dilakukan dengan lebih maju dan menyeluruh. Problem juri yang tidak berkompeten, dan tidak berkualitas, tapi punya banyak kepentingan negatif, masih saja sering "bergentayangan" di lomba lukis anak. Juga penyelenggara yang tidak profesional, hanya menangguk keuntungan semata, semoga bisa cepat-cepat dikoreksi oleh publik, termasuk oleh peserta lomba sendiri.

2. Cara berpikir mundur ihwal minat untuk mengikuti lomba lukis anak dengan target mendapat juara mesti dipangkas dalam pikiran sang anak dan orang tuanya. Si bapak yang komplain di atas, sayang sekali, tidak memberi penjelasan tentang hal itu. Dia tidak menyanggah soal "tuduhanku" bahwa sang anak diajari untuk memiliki "mental siap kalah", bukan hanya "mental juara". Ini titik soal paling penting dalam ritus lomba lukis anak di sekitar kita dari waktu ke waktu yang kini semakin industrial saja.

3. Oleh karenanya, sudah saatnya sistem pemeringkatan (ranking) dalam lomba lukis anak sudah saatnya dihilangkan. Kalau toh masih ada, cukup penentuan 10 karya terbaik, atau 5 karya terbaik, tanpa harus ada juara 1, 2, 3, dan seterusnya. Sistem ini telah sekian lama menjebak pola pikir para anak dan orang tua, juga para pengasuh sanggar lukis anak, sebagai bahan legitimasi tunggal atas "prestasi" mereka. Padahal "prestasi" itu, bisa jadi, penuh intrik mafiosi di dalamnya. Yang jelas, belum tentu mendidik.

4. Saya tak peduli dengan komplain si bapak kecewa itu soal detil peristiwa itu. Masing-masing punya perspektif. Tapi hal paling urgen, aku tidak menyebut nama dengan terang, sehingga tidak menyudutkan seseorang secara transparan. Ini hubungannya dengan soal hukum, dan aku cukup sadar dengan kemungkinan itu. Dan, kenapa sang bapak tidak menulis secara lebih lengkap di weblog sendiri, atau di surat kabar, entah artikel atau surat pembaca? Biar sepadan, gitu loh! Dan argumentatiflah, jangan cuma marah-marah, ya pak! Negeri ini sudah terlalu banyak pemarah yang tak ada gunanya.

5. Kenapa sang bapak ini mengatasnamakan komunitas seni anak? Kenapa tidak atas nama pribadi saja? Ini langkah berbahaya kalau suara keberatan atau komplain pribadi dengan serta-merta dicampur-adukkan sebagai suara komunitas atau sekelomok orang? Apakah bapak ini cukup representatif menjadi perwakilan orang banyak?

Waduh, waduh. Marilah bercermin bersama!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar